1 July 2006

Haram Jadah



By Nilora


Binatang yang paling aku benci adalah anjing. Sederhana saja... aku sering digigit anjing tetanggaku. Sebenarnya sih ... kalau ditelusuri... memang wajar kalau anjing tetanggaku pada marah. Aku dan kawan-kawanku suka iseng menirukan gonggongan anjing ketika berjalan di depan rumah tetanggaku.

Lama lama bukan hanya anjing yang kubenci tetapi tetanggaku juga. Salahnya dia sih... kenapa memelihara anjing. Iseng- iseng, anjing dan rumahnya kami lempari. Tetanggaku jadi marah-marah. Tetapi namanya anak muda, semakin dimarahi semakin ‘gila’ dan ‘kreatif’. Kami bersiasat membunuh anjing tetanggaku itu.

“Caranya gampang”, kata Adi temanku. Dia mengusulkan supaya anjing itu diberi sepotong daging sebagai umpan. “Ketika si anjing melahap daging itu, kepalanya langsung kita pukul dengan kayu. Kemudian cepat-cepat kita masukkan ke dalam karung dan kita bawa lari”, begitu kata Adi berapi-api.

“Itu mah rumit dan berisiko tinggi”, sela si Edo. “Kita jerat aja... pasang tali jerat di tanah dekat sebuah pohon... salah seorang dari kita ada di atas pohon... ditengah bundaran tali, kita letakkan umpannya. Ketika anjing itu makan umpan kita, langsung kita tarik talinya.. anjing terjerat, tergantung dan kemudian mati karena sesak nafas”.

“Begini aja”, kata Seto tidak mau kalah. “ Kita pasang kail yang cukup besar di sepotong daging... ketika anjing makan daging itu... kita langsung tarik dan memukulnya dengan sepotong kayu”.

Sambil merokok, duduk, dan bernyayi, kami mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Banyak ide yang bermunculan, tapi sayang tidak ada kesepakatan diantara kami. Besok aku melihat anjing tetanggaku aman-aman saja.

Tapi bukan berarti... anjing-anjing di kampungku mulai merasa aman. Satu-persatu dibunuh. Tidak hanya oleh anak-anak muda yang nakal tetapi juga oleh tuannya sendiri. Bukan karena serangan Rabies tapi karena pesta. Bagi kami di kampung, pesta tanpa ‘daging anjing’ adalah sama artinya dengan pesta itu tidak ada. Gile khan!

Aku nggak bisa berkomentar. Salah si anjing sih... mengapa dagingnya terasa ‘enak’. Ia nggak! Nggak juga sih... budaya kali yang begitu mengikat. Nggak taulah... barang haram kok dimakan.



Syukurlah… aku diberi kesempatan untuk keluar dari kampungku. Aku diutus perusahaanku yang berkecimpung di dunia perhotelan untuk bekerja di Irlandia. Aku bekerja di Four Seasons, sebuah hotel yang populer diantara kaum ‘the have’ di sana.

Aku memasuki budaya yang berbeda. Aku kaget dan terkagum-kagum, ketika pertama kali aku melihat orang-orang berjalan-jalan dengan anjing-anjing mereka di taman kota dan di pusat keramaian. Mereka berjalan-jalan bagaikan sepasang kekasih yang lagi kasmaran.

Saking tertariknya.. hampir setiap sore sepulang kerja aku ke St. Herbert’s Park, sebuah taman yang jaraknya cuma 500 m dari flatku di Dublin. Sering aku melihat ... anjing menjadi teman bermain, berlari, dan bergulingan di tanah. Mereka diajak bermain bola kaki, disuruh mengejar bola kasti dan menangkap piringan terbang oleh tuan-tuan mereka.. wow... indahnya.

“Hi... you seem enjoying watching her... she is beautiful... isn’t she?, tegur seorang nenek tua, mengejutkan aku dari lamunanku.

“she is”, kataku dengan tersenyum.
Si nenek tua ini mulai bersemangat bercerita.

“she is my child... she is so cute that all my grand children like playing with her”.

“ how old is she?”, tanyaku basa basi.

“Three years old and we’ll celebrate her birthday this month”.

“Wow... wonderful.. congratulations! ... and how are you going to celebrate it?”

“I’m going to invite all my children and some closed friends to come over for a few pints...she’ll have her big day... getting more bones. All her food will be like bones.. It will be bone’s day. Also, my children will buy some new tooth brushes and a new bed for her”.

Aku cuma manggut-manggut. Bengong dikit tapi kagum. Anjing menjadi teman dan dihargai seperti manusia. “Sayang banget si nenek pada anjingnya sampai-sampai anjingnya dianggap anaknya”, kataku dalam hati.

Makin lama tinggal dalam budaya ini, akupun mulai berpikir untuk sebaiknya menjadi “anjing” saja. Lebih-lebih ketika aku sering melihat anjing-anjing yang menuntun orang-orang buta dan orang-orang tua melewati lampu lalulintas, berjalan-jalan di taman, dan naik kendaraan umum. Pemandangan yang luar biasa mengharukan.

Suatu kali aku diajak Jade, temanku yang berdarah Irlandia-Inggris, berjalan-jalan bersama dengan dua ekor anjingnya yang cantik di Phoenix Park, sebuah taman terbesar di daratan Eropa. Taman itu terletak di pinggir kota Dublin.

“Her name is Cindy and the other one is Blacky”, begitu dia mulai memperkenalkan anjing-anjingnya yang berjenis Golden Retriever itu. Mereka begitu antusias berjalan bersamanya... mereka tidak henti-hentinya mencium Jade dengan lidah manis mereka...

“You know... Cindy has been living with me for nearly thirteen years and Blacky for nearly ten years. They’re getting old and sick. I’m afraid of losing them. They’re the best children I have. They greed me happily everytime I come home. It doesn’t matter if I get drunk, tired, or angry. They never complaint. They’re always happy”.

Sayang…, beberapa bulan kemudian, berita buruk itu tiba. Jade kehilangan Blacky dan Cindy dalam kurun waktu yang berdekatan, seminggu. Jade menelponku selama sejam lebih untuk bercerita tentang kedua anjingnya itu.

Pengalaman kehilangan ini sangat melukai hati Jade. Aku pergi mengunjunginya. Saudarinya juga datang. Kami turut berdukacita bersama Jade. Aku berjanji untuk hadir di pemakaman mereka, di kebun belakang rumah Jade.

“Are you going to invite some friends to come to the funeral?”, tanya saudarinya. “No, I’m not, only three of us”.

Mendengar itu, aku terhenyak dan terharu. Aku telah mendapat tempat dikeluarganya. Aku juga kagum anjing mendapat tempat kubur yang layak sementara dikampungku, jangankan anjing, manusia saja kadang tidak bisa dikuburkan secara layak.

Maka sekarang aku berpikir…biarlah…aku ingin menjadi “anjing”, dia memang “haram”. Aku juga ingin menjadi “haram”. Kalau boleh jadi “haram jadah sekalian”.

Ah.. loe emang “anjing”!
“Dasar!!!”

Nilora
Jakarta, 2 Maret 2004

photo: ©nilora

No comments: