19 February 2008

* Si Rambut Panjang



By Nilora


Beberapa waktu silam, aku mengikuti seminggu retret di Manresa House, sebuah rumah retret yg mungil yang berada di pinggir kota Dublin. Rumah retret ini yg dikelola para romo Jesuits juga berdekatan dengan pantai dan Saint Ann’s park, tempat dimana kami bisa menikmati kesegaran alam. Retret ini dihadiri oleh sekitar 30-an suster dan 3 anak muda (laki-laki).


Seperti biasa retret adalah suatu kesempatan dimana kami menarik diri dari kesibukan harian dengan meluangkan waktu yg cukup banyak tuk berefleksi tentang kehidupan, berdoa dan bermeditasi. Kesempatan ini sungguh indah kalau kami sungguh memanfaatkannya. Bentuk dari retretku waktu itu adalah retret terbimbing dimana setiap hari aku harus bertemu dengan spiritual directurku. Selama retret ini tidak ada “input” tuk bersama dan juga dlm retret diwajibkan tuk “silensium” (tenang). Praktis selama seminggu dilalui dengan 90% diam.


Tapi kami bertiga dengan kenakalan muda yg ada sering bersama entah di kamar makan, di taman, dan di kapel dan kadang2 saling berkunjung ke kamar teman, dsbnya. Rupanya tindakan kami cukup menggangu beberapa peserta retret lain yg kami tidak kenal. Tapi secara khusus seseorang suster mengamatiku secara seksama. Tiap kali aku berpapasan di koridor, mukanya selalu masam dan tampak tidak bersahabat. Tapi kupikir ya dia mungkin lagi bergulat dengan persoalan kehidupan pribadinya, bukan karena hehadiranku.


Waktu itu aku masih memiliki rambut yang cukup panjang. Dalam beberapa kesempatan, orang-orang yg tidak mengenalku sering mengira aku perempuan. Menjelang akhir retret, aku bersama seorang teman turun ke ruang makan dan disana kami bertemu beberapa suster yg kebetulan lagi asik ngobrol pelan2. Maklum masih dalam suasana silensium. Kamipun turut ikut dalam obrolan itu. Beberapa saat kemudian, suster yg sering “bermuka tak enak itu” tiba dan masih tampak wajahnya yg “tak berseri”.


Tetapi setelah beberapa saat berada bersama kami, kelihatan wajahnya mulai berubah. Melihatku dengan agak tersenyum, diapun berkata: “Kamu ternyata laki-laki ya!”Aku cuma tersenyum aja. Dan dia berkata lebih lanjut: “Selama ini aku pikir kamu perempuan. Aku pikir dua laki-laki lain itu selalu berusaha mendekatimu dan menarik perhatianmu dan kupikir juga kamu sengaja membiarkan dirimu menjadi pusat perhatian mereka”.


Akupun terkejut dan tidak mengira dengan sebegitu jauhnya suster itu berpikir. Aku tidak memberi jawaban apa-apa selain mengandalkan senjata senyuman dan sedikit tertawa. Aku cuma berkata dalam hatiku: “Jadi selama retret ini yang hampir berakhir... dia berpikir yang “antik” tentang diriku. Pantas selama retret mukanya “tidak memancarkan kedamain”. Akupun jadi berpikir yang aneh..wah bisa jadi ... selama ini suster itu tidak bisa tidur dengan tenang karena berpikir bahwa si perempuan muda itu selalu dikunjungi dan didekati laki2 muda di kamarnya dan ditempat2 lain”. Karena itu, aku jadi tersenyum sendiri pada pikiranku dan aku masih tersenyum juga ketika aku meninggalkan mereka kembali ke kamarku.


Pikiran atau persepsi atau visi kita tentang orang lain rupanya memang sangat berpengaruh dalam tingkah laku kita dalam berhadapan dengan orang lain. Pikiran-pikiran positif yg ada dalam diri akan melahirkan tindakan kasih, sebaliknya pikiran-pikiran negatif kita dapat mengaborsi karya-karya cinta kita untuk lahir secara bebas dalam realita kehidupan.

No comments: