2 August 2008

Ibadat Padang di The Friars - Aylesford - Kent (20 July 2008)

By Nilora

“The Manurung’s Palace” - Honeysuckle

Kami memulai perjalanan sekitar jam 7am dari “the Manurung’s Palace” di Honeysuckle. Angin lembut dan sinar matahari yang bersahabat menyertai perjalanan kami.

Fred Alan Wolf pernah berkata: “The real trick to life is not to be in the know – but to be in the mystery”. Dalam arti tertentu dia benar tapi aku kira keindahan hidup juga terletak dalam "tahu". Aku pikir dengan perjalanan ini kami ingin memecahkan "misteri" dan mau berada dalam "tahu". Kami ingin melihat, merasakan, dan mencium keindahan the Friars. Kami juga ingin berpatisipasi dan mengalami keunikan kebaktian padang.

Sekitar jam 10.30am kami tiba di daerah Aylesford. Kota kecil yang penuh kehijauan. Rupanya untuk ‘strangers’ seperti kami, tidaklah terlalu mudah menemukan the Friars. Setelah bertanya-tanya dan setelah mendengarkan saran “si pemandu jalan dari Botsowana” akhirnya kami tiba di the Friars.

The Friars- Aylesford (Kent)

Letaknya begitu unik. Untuk mencapainya kami harus melewati rumah-rumah penduduk dan jalan-jalan sempit yang berkelok-kelok. Papan nama terlihat jelas ketika kami mulai memasuki wilayah the friars. Suasana biara mulai terasa. Pohon-pohon tinggi berbaris dengan rapi disekitarnya dan guesthouse milik biara tampak unik dengan atap2 jeraminya. Menurut sejarah di websitenya, the Friars didirikan tahun 1242 ketika Carmelites pertama tiba dari tahah suci.

Ada kolam di pintu masuk yang berisi bebek-bebek yg leluasa berenang. Ada bebek besar berwarna hitam yang berjemur dengan anggun digundukan tanah ditengah kolam. Dia seolah-olah mau mengatakan selamat datang pada kami.

Kami berjalan pelan dan tidak terasa sudah berada di “open air shrine”. Di papan dekat pagar tertulis: “Shrine Of Our Lady of the Assumption & St. Simon Stock”. Di sebelah kanan, dekat bangunan yang memuat motto nabi Yesaya yang diambil dari 1 Kings 19:10 yang tertulis dlm bahasa Latin, Zelo Zelatus Exercituum sum pro domino Deo (“I am on fire with zeal for the Lord of Hosts”), tampak para Carmelites dengan jubah-jubah coklat mereka. Di tengah, di samping the Relic Chapel, ada patung bunda Maria. Tampak ada orang-orang tua dan muda yang tekun berdoa. Kebanyakan berwajah Asia dan sepertinya mereka dari Philipina. Disebelah kiri ada St Joseph’s chapel dan the gatehouse.

Di luar kompleks shrine, ada lapangan hijau kira-kira seluas lapangan sepak bola dengan pohon-pohon rimbun mengitarinya. Disudut kanan berdiri sebuah kemah/tenda. Didekatnya ada wajah-wajah yg sudah tidak asing lagi bagiku: Rm. Sutiono, James, Rm. Julius, Pak Rudy, Stella, dkk. Mereka menyambut kedatangan kami dengan wajah tersenyum.

Kebaktian Padang – Hidup sebagai Sebuah Perjalanan

“Di alam terbuka beratapkan langit”, Pak Rudy Hutagalung (ketua Perki) membuka acara Kebaktian dengan “uluk salam”. Pak Rudy mengucapkan selamat datang kepada semua yang hadir dan terima kasih untuk semua yang telah bekerja keras mempersiapkan acara istimewa ini.

Rm. Sutiono mengambil alih tongkat acara dengan mengajak seluruh yang hadir untuk menyanyikan lagu “Joyful, joyful We Adore Thee” tapi versi bahasa Indonesianya. Dalam kebaktian padang ini Rm. Sutiono mengajak kami berjalan-jalan sambil merenungkan/merefleksikan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan tiap manusia: Kelahiran, Makan-Minum, Masa Sekolah, Penderitaan, Pekerjaan, Bahtera Rumah Tangga, Di Rumah Bapaku. Pada setiap perhentian, kami mendengarkan atau merenungkan cuplikan kisah/cerita/ renungan yang dibacakan silih berganti dalam bahasa Indonesia / English oleh adik-adik, and saudara-saudari Perki. Doa, responds dan nyanyian mengakhiri setiap perjalanan. Petikan-petikan gitar yang indah dari para gitaris: Bung James, Patty, & Pak Eddy Man, membuat perarakan menuju tiap perhentian terasa mudah dan penuh hikmat.

Perhentian terakhir dari perjalanan rohani ini adalah The Relic Chapel. Lagu “Nyanyikanlah Kidung Baru” menandai keberadaan kami di kapela dimana relic dari St Simon Stock diabadikan secara istimewa. Romo Sutiono terus mengajak kami bertekun dalam doa dan menghibur kami dengan makanan sabda yang menyejukkan hati, membawa kegembiran, dan “menggetarkan waktu”.

Doa umat dikumandangkan, lagu selingan disuarakan secara merdu, dan doa “Bapa Kami” didaraskan tuk menyimpulkan seluruh terima kasih dan harapan kami pada Sang Esa. Lagu “Semua Bunga Ikut Bernyayi” menandai akhir dari permenungan rohani siang itu. Kami melanjutkan perjalanan kami dengan kembali ke kemah utama tuk menikmati makanan siang.

Kemah Utama, Ultah & Makan Siang

Ada keramaian yang luar biasa di kemah utama. Lagu “Happy Birthday” terdengar jelas di kejauhan. Rupanya hari ini adalah hari istimewa untuk mbak No. Beliau mendapatkan berkat berupa kue-kue yang cantik dan “good wishes” dari kami yang hadir. Selamat Ulang Tahun ... mbak No!

Acara ultah dan kegiatan rohani kami tentu terasa lengkap dengan acara makan bersama. Makanan yang tersedia beraneka ragam. Ada nasi vatikan ( kuning dan putih), perkedel, sayur pecel, spring rolls, sambal hijau dan merah, kerupuk, ikan panggang, semur, ayam goreng and plus teh sosro. Melihat semuanya ini, aku berkata dalam hati, “pulangkan aku ke tanah air tercinta”. Aku bersyukur semua ini tentu adalah hasil dari CINTA dan karena cinta yang mendalam inilah, kami semua dikuatkan dengan makanan jasmani untuk berlomba-lomba dalam menjalani kehidupan.

Perlombaan Anak-anak & Orang Dewasa, & Undian Berhadiah

Makanan siang mulai mengendap setelah beberapa saat beristirahat. Games siap dimulai. Anak-anak dengan bantuan orang tua berkumpul di samping kemah utama dibawah komando para “bu guru”. Anak-anak berlomba dalam menghias gingerbread man. Hasil dari jerih payah, mereka mendapatkan hadiah boneka yang lucu-lucu dan unik.

Orang dewasa juga tidak mau kalah. “Master of Ceremony”, Rm. Julius membagi kami dalam lima kelompok. Dengan aksen khasnya, perlombaan-perlombaan terasa meriah, lucu, kocak,dan penuh dengan kegembiraan. Ada beberapa perlombaan: Lomba nyanyi (Ada yang menyanyikan potong bebek angsa dengan goyangan-goyangan mautnya. Ada juga yang menggubah hallo-hallo Bandung dengan kreasi baru); Lomba masukkan pensil dalam botol (Ternyata tidak semudah yang dipikirkan ... sulit juga dan butuh kosentrasi dan kerjasama yang seimbang) ; Lomba adu penalti (Tiap group mewakilkan lima penendang. Masing- masing pemain harus memasukan bola ke gawang kecil tanpa kiper dari jarak 11 meter. Ternyata teori bola itu bundar... benar. Bola lari kemana saja kaki tidak memintanya. Alhasil tidak banyak yang berhasil. Aku sendiri bukan pemain bola tapi dua kali berhasil memasukan bola. Karena itu aku dijuluki si Kevin (anak the Manurung’s) sebagai romo Ronaldo. Seperti Ronaldo yang gagal penalti pada final Champions league, aku pun gagal mengeksekusi penalti pada saat yang krusial. Tendangan terakhir meleset. Semua terjadi tentu karena bola itu bundar; Dan Lomba panjang-panjangan ( apa saja dipake tuk membuat barisan panjang – ikat pinggang, tali sepatu, kaos, jaket, baju, celana , dsbnya.).

Perlombaan-perlombaan ini telah mencairkan keasingan dan perbedaan. Kami berbaur dalam kegembiraan. Mereka yang menang mendapatkan hadiah tapi hadiah terindah adalah keakraban dan kegembiraan yang dialami, yang menurut seorang temanku di tanah air: “Pengalaman seperti itu tidak bisa dibayar dengan uang dua milyar.” ( ya kalau gitu ... kasihlah uangnya padaku, dan kegembiraan itu akan Tuhan berikan ... )

Kalau saja uang dua milyar itu ada padaku, tentu saja acara terakhir sore itu yang sudah dinanti-nantikan dengan “deg degan” tidak aku ikuti. Tapi karena dua milyar itu tidak ada maka aku mengikuti undian berhadiah dimana pemenang utamanya akan mendapatkan dua tiket untuk menonton pertandingan sepak bola Chelsea vs Portsmouth pada tanggal 17 Agustus 08. Untuk penggemar Chelsea, moment ini adalah saat yang tidak boleh dibiarkan terbang begitu saja. Tapi mungkin karena aku single (kan tiketnya ada dua ... jadi adil kalau yang dapat yg berpasangan aja ) dan juga karena dewi luck tidak berpihak pada “penggemar Chelsea” sepertiku, maka aku harus puas dengan hadiah hiburan. Seseorang menesehati or menghiburku, “Untuk bisa menonton Chelsea, tabunglah dulu dan beli tiket pada saatnya tiba”. Ya betul... untuk segala sesuatu ada saatnya. )

Sayonara & Thank you

Kami menutup acara dengan foto-foto bareng, doa dan berkat penutup. Jam 4pm satu persatu mulai meninggalkan the Friars. Selamat jalan the Friars ... selamat jalan teman-teman ... sampai berjumpa lagi di lain acara.

Matahari masih tersenyum ketika jam 9pm kami tiba kembali di Bristol. Manusia- manusia masih berlalu-lalang di jalanan. Kami pun masih ada waktu untuk bercerita dan makan malam bersama sebelum aku dan Rm. Gaby diantar kembali ke “pondokan” masing-masing.

Aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk panitia (Pak Rudy, Stella, James, Rm. Sutiono, para ibu, dkk) yang telah suka rela dan bekerja keras mempersiapkan suksesnya acara kebaktian padang ini. Terima kasih juga kepada “The Manurung’s” untuk sharingnya dan kerelaannya membiarkan kami “mencicipi” bagaimana hidup bersama keluarga di tanah rantau ini. Kalian telah melakukan apa yang dikatakan nabi Micah “to act justly, to love tenderly, and to walk humbly with your God” (Micah 6:8).



Photos: Taken by Nilora & Gadaman

1 comment:

Britano said...

Wah..keren ini website-nya...masih segar aja ya ingatannya merurut semua kejadian...!!! Bagus Romo..